Senja Di Wisma Yaso

Sore itu udara sedikit panas di Wisma Yaso. Merebak keheningan di sekitarnya. rerumputan yang tumbuh seperti lambaian-lambaian manusia yang tak perduli akan seonggok daging manusia di dalamnya. Cat yang buram kecoklatan semakin menambah kusamnya wisma tersebut. Tampaklah bahwa wisma tersebut memang tak terawat layaknya sebuah tempat tinggal yang dihuni oleh manusia.

Sore itu menjadi saksi bahwa memang manusia kadang telah lupa akan sebuah jasa manusia tentang arti sebuah hidup dan memaknai apa hidup itu sendiri.

Di kamar wisma tersebut teronggok sebuah tubuh yang sudah layu seperti sebuah fajar yang sudah hampir meredup di ujung hari siang. Kaus putih dan piyama yang melekat ditubuhnya semakin menampakan badan kurus yang tak terawat. Walaupun ada suster yang menjaganya, tak tampak di sinar matanya sinar kehidupan yang amat sangat seperti lima tahun yang lalu ketika dia berkoar di mikrofon, di radio atau di podium yang membuat dirinya merasa hidup. Merasa bahwa inilah cintaku. Bukan pada istriku-istriku tapi negaraku. Tubuh yang pada lima tahun terakhir adalah tubuh yang terhormat, tubuh yang mampu menyihir seluruh pendengarnya dengan ketampanannya dan kepiawayannya dalam berargumen. Bibir yang sangat eksotis yang mampu menyihir para pendengar dengan teriakannya yang khas, yang bikin kelabu sekelabu kelabunya warna hati, yang bikin merah semerah-merahnya warna hati. Bibir yang menjadi penyambung lidah yang dicintainya.

Hari ini, di wisma Sayo yang sepi, dan benar-benar sepi tak ada nyawa yang mau bersinggah dan hanya sendiri, dia terbaring kaku, seolah tubuh itu tak lagi mampu ia atur untuk bangun, seolah tubuh itu tak lagi mampu ia suruh hanya untuk sekedar jalan ke kamar mandi.

Di tempat pengasingan ini nyawa ini benar-benar terasing, bukan hanya terasing dari keluarga yang sangat dicintainya, Rachma, Guntur, Hartini sang istri tercinta, tapi tubuh ini terasing dari kehidupan benar-benar kehidupan. Sejatinya manusia ingin bertegur sapa dengan manusia. Bukan hanya dengan anjing yang selalu mendampinginya di dekat tepi pembaringannya. Tentunya tubuh ini ingin mendapatkan rasa kehangatan bertegur sapa dengan kawan, dengan sanak saudara, dengan orang-orang yang paling dicintainya sehingga harus mempertaruhkan sebagian hidupnya untuk memperjuangkan mereka.

Kerinduan inilah yang akhirnya sedikit demi sedikit mengikis tubuh yang telah renta semakin bertambah renta, lesu, kehilangan gairah dan sedikit demi sedikit pula tubuh ini telah tak berfungsi, tangan ini tak lagi mampu menulis, kaki ini rasanya sulit berjalan, bahkan hanya untuk pergi ke kamar mandi.

Aku benar-benar terpasung di wisma ini. Terpasung dari kehidupan luar. Terpasung dari hingar bingar dunia akibat kejamnya penguasa. Selama lima tahun, aku hanya bertemu dengan beberapa orang manusia saja, Rachma, Hartini istriku, dan ajudan-ajudan bengis yang selalu menanyaiku “apakah kamu terlibat kejadian tanggal 1 Oktober pagi?”. Aku sudah bilang bahwa aku tak tahu apa-apa mengenai kejadian itu. Aku tak tahu kenapa Gestok itu terjadi? Tapi sampai hari ini, setiap pagi, sore, malam seperti tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan selain itu. Bah, kalau aku tahu kenapa aku harus diam. Akupun mengecam kejadian tersebut. Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau aku tahu, aku tak harus mengorbankan keluargaku, Rachma, Dewi sang istriku dari negeri matahari, Hartini istriku yang sangat sabar.

Aku tak mungkin menghianati rakyatku. Karena bagiku mereka adalah nyawaku. Aku pernah bilang kepadamu “jika kalian ingin membunuhku maka jauhkanlah aku dari rakyatku” dan hari ini kau buktikan itu. Sudah lima tahun aku terpasung dalam rumah tanpa mendengar indahnya suara rakyatku yang mengatakan aku cinta padamu bapak. Bahkan ketika aku membeli rambutan dijalan, kau memarahi dokter yang aku ajak keluar karena tukang rambutan itu bilang “hoi…ada bung Karno” kau lalu memperketat penjagaan di wisma lusuh ini. Hanya untuk seikat rambutan yang aku ingin beli di jalan.

Betulah, sedikit demi sedikit gairah hidupku mulai berkurang. Sakit ginjal, rematik, penyumbatan pembuluh darah di jantung, semuanya telah menggerogoti seluruh sendi nafas kehidupanku. Bukan karena aku penyakitan, tapi karena kau telah sukses memisahkan aku dengan rakyatku, sehingga kau telah sukses membunuhku secara perlahan. Susah rasanya hidup tanpa rakyat yang sangat aku cintai. Bahkan hari ini pun rakyat yang aku cintai membenciku. Lalu alasan apalagi yang harus aku kemukakan kepada takdir bahwa aku harus terus hidup? Akhirnya keluargakulah yang tetap memberikan secuil asa untuk hidup.

Tapi, bagiku sama saja, karena kau telah membiarkan aku diam di wisma ini tanpa ada teman, tanpa ada riuh manusia. Aku sendiri. Benar-benar sendiri.

Penyakitku semakin hari semakin parah saja. Batukku berdarah, begitu juga ketika buang air besar. Tapi kau malah memberikan aku dokter hewan. Aku sedikit tertawa ternyata aku adalah hewan dihadapanmu.

Tak tahan rasanya jika aku harus diasingkan oleh rakyatku sendiri, oleh bangsaku sendiri. Lebih baik aku diasingkan dan di hukum oleh Belanda daripada oleh rakyaktu sendiri. Capek hati ini menahan kerinduan yang selama lima tahun ini dibatasi oleh status tahanan rumah. Aku rindu podium, aku rindu mikrofon, aku rindu ingin mencurahkan isi hatiku kepada seluruh rakyat Indonesia, aku rindu meneriakan anti neo kolonialisme, aku rindu gemuruh rakyaktu yang mendukungku, aku rindu perhatian rakyatku, aku rindu…namun, kerinduan ini tetap saja tak terkabulkan dan terus tepasung dalam hati yang terdalam. Kemana rakyaktu? Kemana kekasihku? Aku rindu ingin bertegur sapa dengan mereka. Karena kerinduan inilah aku sampai seperti ini.

Di wisma kusam penuh dengan tai cicak ini aku terbaring hampir tak ada yang mengunjungiku. Perawat yang sepertinya tak berniat merawatku. Meminta bantuan kepada pemerintah? Ah…biarlah… tak sudilah aku meminta kepadanya, karena prinsipku sudah jelas tak pernah ingin meminta belas kasihan orang lain.

“Tok…tok…tok…” tiba-tiba suara pintu wisma ini terdengar. Bunyi yang sangat indah bagiku. Bunyi yang langsung merasuk kepada sanubari akan ada seorang teman atau saudara yang akan mengajakku mengobrol, bercanda atau sedikit melepas penat dengan bermain kartu remi. Tapi sekali lagi aku tak mampu bangun dari tempat tidurku. Tubuh ini sudah tak mampu diperintah oleh tuannya. Akhirnya suster yang menjagaku membukakan pintu.

Seorang laki-laki masuk kamarku. Aku melihatnya karena mata inipun sudah lamur oleh waktu. Mata ini dimakan waktu karena tak kugunakan untuk melihat apa-apa yang aku cintai.

“Hatta kau disini?” pandanganku susah untuk menangkap mukanya.

Yang disapa tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kesedihan yang mencabik hati. Hatta berusaha menjawabku dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur “iya No, ini aku Hatta, bagaimana keadaanmu” orang yang ada di dekatku mencoba untuk biasa saja. Hatta menyapaku dengan sebutan yang digunakan dimasa lalu. Seketika itu juga pikiranku kembali kepada hari Jum’at jam 10.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945. Aku kembali meresapi hari yang bagiku merupakan hari yang tak akan pernah aku lupakan, hari yang paling indah, bahkan bagi rakyatku sendiri. Jika rakyatku menyelami hatiku pada waktu itu, niscaya mereka akan menemukan sinar harapan yang ada di dadaku tentang Indonesia di masa yang akan datang, tentang impianku menjadikan Indonesia gemah ripah loh jinawi aman tentrem kerta raharja. Aku meresapi detik-detik itu sekali lagi ketika bersama dengan Hatta. Indah…seindah sang fajar yang menembus dedaunan sebuah pohon yang rindang dan diramaikan oleh cicit burung disebuah bukit. Sinarnya yang kekuning-kuningan akan menghangatkan seluruh nyawa. Damai sekali rasanya waktu itu. Sedamai aku mendengarkan lagu keroncong kesukaanku, bahkan lebih dari itu.

Tak ada yang sangat bahagia melebihi kebahagaiaanku waktu itu. Karena memang sebagian cita-citaku adalah memerdekakan bangsa ini. Aku ingin menikmatinya sekali lagi bersama Hatta, walaupun hanya satu detik.

Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain. Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta.

Aku ingin merasakan lagi detik-detik yang membanggakan itu. Damai…indah…tak terasa air mataku mengalir deras mengalir menuju pipiku. Bukan karena hanya memori indah itu, tapi juga kini aku bertemu dengan sobat lamaku, setelah sekian lama ada salah faham dianatara aku dengannya.

Kini ia hadir sebagai seorang sahabat, sebagai teman lama, dan ia memanggilku dengan perkataan No, dia memanggil ujung namaku. panggilan yang terdengar akrab sekali bagiku setelah sekian lama aku terpasung kesepian karena statusku sebagai tahanan. No…kata-kata yang sangat indah, terdengar indah yang meluncur dari sahabat lamaku.

“Tolong ambilkan kacamataku ta, supaya aku bisa melihatmu lebih jelas” selorohku kepadanya. Tiba-tiba tangan hangat Hatta memegang tanganku, seolah-olah ia ingin kembali memberikan semangat hidup kepadaku, seolah-olah ia ingin aku kembali mengingat dimana aku dengannya berjuang bersama dan di juluki Dwi tunggal. Dan kehangatan itu terus merasuk kedalam hatiku. Mataku kembali menghangat dan mengalirkan sungai kecil di pipiku yang semakin membengkak akibat dari racun penyakitku yang telah menyebar ke seluruh tubuhku.

“Hoe gaat het met jou..?” bagaimana keadaanmu?”

Hatta memaksakan diri tersenyum, tangannya masih memegang tanganku. Aku kemudian terisak seperti anak kecil. Entahlah apa yang aku tangisi. Mungkin karena aku seperti menemukan tempat muara yang dari dahulu aku tunggu-tunggu. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Air matanya juga tumpah. Hatta ikut menangis. Kedua teman lama yang sempat terpisah mempererat pegangan tangan seolah tak ingin berpisah kembali. Hatta tahu waktu bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak lama lagi. Dan Hatta tahu betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang diberikan oleh pemerintah yang dialami sahabatnya ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali.

“No…” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia tak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Aku tahu dia sedih melihatku seperti ini. Dan aku sangat senang akhirnya ada yang memperhatikanku. Walaupun hanya satu orang. Seorang Hatta. Ini sangat berarti bagiku.

Tak lama kemudian aku dan Hatta meneteskan mata air ke bantal.  Perlahan Hatta memijiti tubuhku. Indah rasanya… Setelah sekian lama tak ada satupun yang memperhatikanku seperti ini di tempat pengasingan ini selama lima tahun. Tak ada kata-kata lebih lanjut. Aku dan Hatta terlalu sibuk menyelami masa-masa bahagia ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, mengenang suka duka ketika berjuang bersama mebangun altar pemerintahan bangsa yang besar ini.

Hari itu , 20 Juni 1970, sore hari, menyisakan kenangan yang tidak mudah lepas dari memori. Dua orang manusia yang separuh hidupnya diabdikan untuk kepentingan bangsa, bertemu dengan suasana duka yang sebelumnya tiada pernah terbayangkan. Sukarno tergeletak lemah tak berdaya. Bahkan daya ingatnyapun menurun drastis.

Sukarno tak bisa berkata-kata. Ia diam dalam sakit yang teramat sangat. Pengembaraan jiwanya seolah telah final, tumpah ruah diatas pembaringan terakhir. Sukarno hanya diam, menunggu datangnya masa, dimana ia dapat menggapai swarga loka, terbang bersama cita-cita yang kandas di tangan bangsanya sendiri. Ia diam dalam segala kepasrahan, menunggu jawaban kapan jiwanya melayang pada Sang Pemilik.

Terinspirasi dari Tragedi Sukarno

22 Juni 2009 pukul 02.00 Wib pagi hari

Iklan

7 thoughts on “Senja Di Wisma Yaso

  1. Sungguh menyedikan nasib pejuanh bangsa kita, dengan pengorbanannya yang seperti itu kita harus menjaga bangsa ini dengan sebaik-baiknya..!!!

    1. yup…terlepas soekarno mempunyai kesalahan atau tidak, dia telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bangsa ini. salam kenal mas. ^_^ trims dah berkunjung ke blog ku.

  2. ketika anak bangsa ini meninggalkan bapaknya…
    membuat sakit bapaknya…
    lihatlah yang terjadi pada anaknya…
    bangsa ini tidak akan pernah bisa berhasil…

    *bukan pesimis, tapi sebuah keniscayaan,
    ibarat durhaka pada orang tua…”kesialan seumur hidup”
    akan senantiasa mengikuti…, astaghfirullah…***

    semoga kita bisa kembali mengingat jasa dan kebaikan ‘pak Karno’
    niscaya bangsa ini akan mendapat keberkahan…, salam 🙂

    1. yang paling penting adalah ambil ilmu dari mereka dan tinggalkan keburukanya, teladani semangatnya kemudian melangkah memperbaiki bangsa ini dengan memperbaiki diri kita. penghargaan kepada para pahlawan sudah pasti. ^_^. salam kenal ya

  3. Assalamu’alaikum, saya mohon maaf, baru bisa berkunjung sekarang, karena sedang sibuk dan sempat kurang sehat kemarin ini, kita harus lebih bisa menghargai jasa para pejuang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s