Aku Sadar Tak AKan Pernah Bisa Seperti Lukman

Satu bulan ini ada sesuatu dalam kehidupan saya. sesuatu yang tidak pernah menyangkanya akan pernah terjadi, sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding karna kebesaran Allah swt ada dihadapan saya, sesuatu yang menjadikan saya berstatus baru, ayah. indah terdengar dan baru sekarang ini saya tahu rasanya menjadi seorang ayah. seperti mimpi, tetapi hari itu tanggal 17 Januari 2011 saya benar-benar mempunyai seorang anak perempuan yang lucu dan cantik yang bernama Hafshah Aqilah Syahaznani.

Seperti baru bangun, ia menangis untuk pertama kalinya di dunia dengan tangisan yang merdu, lucu dan juga haru. ah….anakku lahir ya Rabb.pertama kali saya mendengarkan tangisannya, seperti tidak percaya bahwa saya telah menjadi seorang ayah. Ketidak percayaan itu kemudian dilarutkan dengan air mata yang menetes haru, kian haru ketika saya melihat istri saya yang tergolek lemah setelah menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang ibu, melahirkan. Baru kali itu saya merasakan betapa memang perjuangan seorang ibu begitu besar. Saya baru benar-benar sadar bahwa ternyata ibu saya dahulu pun ketika melahirkan saya tidak jauh berbeda seperti istri saya. subhanallah…Betapa saya menyepelekan beliau pada hari-hari sebelum ini….

Setelah selesai dibersihkan, masih dengan rasa haru saya mengadzaninya. Adzan puh hampir-hampir tidak terdengar karena rasa haru yang menyesakkan dada, isak tangis yang menghantam tenggorokan. Ingin rasanya waktu itu saya bilang ” nak, ini bapak nak. bantu bapak supaya bisa mempertanggung jawabkan amanah ini di hadapan Allah nanti.” Ingin rasanya bahasa yang pertama terdengar adalah senyuman dan jawaban “Iya bapak, saya akan bantu bapak untuk mempertanggung jawabkan dihadapan ALlah nanti dengan cara berbakti kepada Allah, Rasul dan bapak serta ibu.” Ingin sekali rasanya saat itu juga saya mendengar kalimat itu dari anak saya.

Masih dengan suara yang serak, saya tak kuat menahan emosi yang berkecamuk. Allahu akbar….Allahu akbar… Asyhaduanlaa ilaaha illallaah …sembari sesenggukan saya letakan bayi itu di dada ibunya yang baru saja berjuang keras, gigih, tanpa mengeluh. subhanallah…

Hari itu hari kebahagiaan sekaligus hari amanah baru buat saya. Layaknya sebuah kertas, apa yang ingin saya tuliskan pada kertas baru yang masih putih, bersih tanpa noda. apakah saya akan mencatat sejarah dari anak perempuan ini dengan sejarah yang gemilang? ataukah saya justru akan menelantarkan anak yang sudah diamanahkan oleh ALlah swt. naudzubillah…

Saya teringat dengan hadits Rasulullah saw yang mengatakan bahwa:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.(HR. Bukhari).

Hadits ini membuat saya berpikir ulang bahwa apapun yang dilakukan oleh anaknya sebenarnya tidak lain adalah hasil dari upaya orang tua mendidik anaknya sendiri. Rasulullah saw sangat faham dengan apa yang dikatakan dalam haditsnya. “orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi, majusi” adalah sebuah bentuk pemberitahuan kepada kita sebagai seorang muslim bahwa membangun sebuah peradaban tidak akan pernah bisa dilakukan langsung pada ranah yang luas. Membangun peradaban tidak akan pernah bisa terjadi hanya karena serumpun dan sebudaya. tetapi membangun peradaban (baca: peradaban islam) hanya akan terjadi ketika kita faham bahwa sebagai orang tua, maka tugas kita adalah mengenalkan islam sebenar-benarnya kepada anak-anak kita, memadupadankan antara ilmu dengan jiwa yang bersih.

Indah sekali Nasihat Lukman kepada anaknya. Ia tidak menyuruh anaknya untuk mengikuti Indonesian Idol, Indonesian Got Talent, Indonesia Mencari Bakat, tidak sama sekali. Lukman juga tidak menyuruh anaknya untuk menjadi orang yang harus kaya, karena kekayaan hanyalah alat untuk memperbaiki diri, ia juga tidak pernah menyuruh anaknya untuk sekolah tinggi-tinggi karena sesungguhnya sekolah tinggi juga merupakan sesuatu dari sebuah akibat. apa itu? mari kita dengar nasihat Lukman:

  1. Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya: “Hai anaku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (Qs Lukman (31) : 13)
  2. Hai anaku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membawanya) sesengguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui.” (qs Lukman (31) : 16)
  3. Hai anaku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) me-ngerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Allah).” (Qs Lukman : 17)
  4. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri ( Qs Lukman : 18)
  5. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai. (Qs Lukman : 19)

Nasihat yang pertama yang Lukman berikan adalah jangan pernah mempersekutukan Allah swt. kenapa nasihat ini yang pertama? tidak lain karena inilah kunci dari segala macam kebaikan. inilah dasar dari seseorang menjalani kehidupanya. tanpa keimana kepada Allah swt sesungguhnya apapun amalan yang kita lakukan menjadi seperti debu yang diterbangkan oleh angin. Ia ambigu, ia ragu kemudian hilang tanpa bekas.

Nasihat yang kedua Lukman menasihati anaknya agar memperhatikan apa yang ia perbuatnya. Hal ini tentu saja bukan karena tanpa alasan. ketika keimana kita kepada Allah swt telah kukuh, selanjutnya adalah memperhatikan apa yang kita perbuat. seseorang yang sudah beriman kepada Allah swt, ia terikat kepada aturan Allah. Aturan Allah ini yang akan menjadikan manusia menjadi orang yang penuh dengan keimanan dan keindaha. Tidak seperti aturan manusia yang bersifat lemah dan mencapekan, aturan Allah swt justru membuat hati tenang dan nyaman bagi orang yang menjalankannya. Setiap kebaikan akan menjadi kebaikan walopun sedikit. dan setiap keburukan akan mendekatkannya kepada kehancuran walopun sedikit.

Nasihat Lukman, yang selanjutnya adalah mendirikan salat dan memberi kabar kepada manusia lainnya agar melakukan perbuatan-perbuatan baik. Lukman menyuruh anaknya mendirikan salat karena dengan salat itu sesungguhnya akan menjadikan anaknya orang yang sabar dan kuat atas apa yang akan dihadapi, karena nasihat selanjutnya dari Lukman adalah memperingatkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan.

Nasihat Lukman selanjutnya adalah jangan pernah sombong dan memalingkan diri dari orang lain. Hal ini tentu saja bukan tidak ada tujuan. Selain Allah swt saja yang berhak sombong, sesungguhnya memalingkan muka dari orang lain akan mengakibatkan perkataan apapun yang akan kita sampaikan kepada orang lain menjadi sia-sia karena tidak akan pernah mendengar. Lukman menginginkan anaknya menjadi anak yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan cara jangan pernah memalingkan dari orang lain.

dan nasihat yang terakhir adalah jangan pernah menjadi orang yang berlebihan dalam hidup karena sesungguhnya kehidupan itu tidak bisa sendiri. ia harus bersosialisasi, ia harus menyampaikan kebenaran. ada korelasi antara tidak sombong dengan tidak berlebihan, karena kesombongan biasanya akan menimbulkan berlebihan.

Bbegitulah Lukman menasihati anaknya. Betapa ayah seperti Lukman inilah sesungguhnya yang telah siap menjadi ayah. Ayah idaman bagi anaknya. Lalu saya mengaca kepada diri saya pribadi, betapa jauh saya dengan Lukman…jauh sekali….tapi walopun begitu ada secercah keinginan yang bulat untuk menjadikan anak saya sebagai seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti Lukman yang baik, saya hanya bisa berharap ke Allah swt agar dimampukan untuk merawat anak sehingga menjadi anak yang berguna seraya berkata kepada anak saya:

“Nak, bantu bapak menjadikan kamu orang yang penuh dengan ruh keislaman.” amin……^^

Iklan

7 thoughts on “Aku Sadar Tak AKan Pernah Bisa Seperti Lukman

  1. Selamat teman… Setahun yang lalu, saya juga mengalami pengalaman serupa. Betapa bangganya menjadi seorang Bapak.
    Semoga putrinya menjadi anak yang berguna bagi agama, orang tua, bangsa dan negara. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s