Senja di Goa Sunyaragi

Sore itu matahari sudah tidak terlalu panas. Hanya menyisakan sedikit sinar yang memancar ke bebatuan-bebatuan karang yang disusun secara unik dan Nampak “aneh” di Gua Sunyaragi. Matahari yang mulai condong ke Barat menyisakan sebuah rona senja yang sangat asyik untuk dinikmati.

Ku lesatkan si Merah tungganganku menuju tempat parkir taman Gua Sunyaragi. Setelah membereskan rambut yang acak-acakan, selanjutnya ku rengkuh dan ku selempangkan salah satu tali tas ke pundak kananku. Sepatu pantopel dipadu dengan celana jeans dan kemeja biru bergaris menjadikanku seperti seorang wartawan yang akan meliput sebuah berita, kesan seperti itulah sepertinya yang akan orang liat ketika pertama kali melihatku. PeDe aja lagi. Hehehe….:D

Setelah siap semuanya, saya langsung meluncur ke sebuah meja yang disitu terdapat seorang petugas yang belakangan saya ketahui bernama Yusuf. “pa, saya ingin masuk gua. Berapa biayanya?” Saya bertanya karena memang tidak ada tulisan berapa biaya masuk ke gua Sunyaragi peninggalan Keraton Pakung Wati (sekarang bernama keraton Kasepuhan). “Lima ribu saja mas” jawab mas yusuf.

Tidak menunggu lama  kusodorkan uang lima ribu rupiah dengan dua pecahan uang dua ribu dan satu pecahan seribu. Saya tidak langsung beranjak meninggalkan tempat pendaftaran. Karena kebetulan sedang tidak banyak pengunjung. Saya sempatkan sejenak untuk berbincang dengan mas Yusuf.

Mulai berlagak seperti wartawan, nanya macam-macam. Hahahaha… dan hasilnya sebagai berikut:

Gua Sunyaragi menurut penuturan Mas Yusuf didirikan dalam tiga tahapan. Tahapan yang pertama dibuat langsung oleh Sunan Gunung Jati beserta pangeran Zainul Arifin pada tahun 1536. Gua ini jika dilihat sepintas tidak seperti berbentuk. Hal ini dikarenakan batu karang yang mempunyai bentuk tidak simetris. Namun, jika dilihat lebih teliti maka akan terlihat sangat unik dan menarik. Contohnya adalah patung bentuk Gajah yang sedang duduk yang melambangkan pembuatan pada periode pertama.

Oh iya kawan, batu karang itu ternyata diangkut dari luar jawa. Kenapa? Karena laut jawa adalah laut yang dangkal sehingga tidak mempunyai batu karang yang banyak. Uniknya adalah batu karang yang disusun itu seperti ditumpuk begitu saja, seperti tanpa perekat. Sampai hari ini belum diketahui bagaimana caranya batu karang itu dapat merekat kuat. Ciri yang sangat menonjol dari pembangunan pertama ini adalah hampir seluruh bahan yang dipakai adalah batu karang.

Pembangunan tahap kedua dilanjutkan oleh pangeran Kararangen pada tahun 1703. Ditahapan kedua ini pembangunan dicirikan oleh sebuah bentuk yang menyerupai tiang yang terbuat dari batu karang. (Sayang saya tidak mengambil gambar tiang tersebut). Pada tahap kedua ini penggunaan semen sudah mulai diperbanyak karena banyak lorong-lorong yang sering disebut sebagai gua peteng (peteng = gelap). Jika kalian masuk ke gua tersebut hati-hati kawan karena terlalu gelap. Bawalah senter untuk menerangi jalan.

Pada periode ketiga pembangunan Gua Sunyaragi ini dibangun oleh seorang arsitek dari Cina, sehingga jika diperhatikan lebih lanjut gua ini berbentuk seperti kepala Barongsay. Hal ini tidak lain untuk menghormati sang Istri Sunan Gunung Jati yang berasal dari China, Putri Ong Tien. Periode ketiga ini dibangun berdasarkan titah dari Sultan Matangaji pada abad ke 18 (sekitar tahun 1770).

Pada jaman penjajahan Belanda dan Portugis banguna yang pada awalnya berfungsi sebagai tempat bercengkrama keluarga keraton dijadikan sebagai tempat  latihan perang. Oleh karena itu pada sekitar tahun 1770 sebelah kiri bangunan yang dibangun pada periode ketiga terkena hantaman bom, sehingga kepala barongsay hancur pada bagian kirinya.

Hari ini bangunan itu masih berdiri tegak menyisakan cerita-cerita heroic tentang para pejuang-pejuang keraton Pakung wati (keraton Kasepuhan) namun, sayangnya bangunan ini kini seperti tidak terurus. Ketika saya masuk ke dalamnya banyak coret-coret oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya itu, gua Sunyaragi yang mempunyai tempat yang meliuk-liuk dan tersembunyi justru kini dimanfaatkan oleh muda mudi sebagai ajang berpacaran yang mengasyikan, gelap dan terlindung. Saying sekali bukan kawan? Inilah tugas kita dan pemerintah selanjutnya untuk memperbaiki keadaan tersebut. Jika kalian ingin berkunjung ke Cirebon dan berkeliling Cirebon, jangan lupa mampir ke Gua ini. saya jamin tidak akan kecewa. Saya siap mengantar kawan-kawan untuk berkeliling Cirebon. 😀

Iklan

2 thoughts on “Senja di Goa Sunyaragi

  1. Kompleks Tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua terbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar komplek bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s