Berdamai Dengan Waktu

berdamai dengan waktuSemangat pagi kawan semuanya. Sehat? tak terasa hari-hari cepat sekali berlalu. Target yang satu belum juga kelar, tapi waktu semakin sempit saja. Kalau bahasanya Ardi Gunawan mah “Argo terus berjalan”. Dipikir-pikir betul juga ini kalimat. Waktu tidak akan pernah berhenti seperti argo Taxi yang terus berjalan. Padahal tujuan belum juga terlihat.

Kalau diingat kembali kitab suci kita Al-quran Allah sudah wanti-wanti dengan waktu. Masih ingatkah surat apa? Ya, Al-Ashr, Demi Waktu. terjemahan lengkapnya:

“Demi waktu, bahwa manusia akan merugi, kecuali bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, saling nasehat-menasehati dalam kesabaran dan kebenaran.” (QS. Al-Ashr:1-3)

Biasanya kalau Allah sudah berjanji “Demi waktu, demi malam, dan demi-demi yang lainnya, maka hal tersebut adalah sesuatu yang benar-benar harus diperhatikan. Betapa tidak ternyata gara-gara waktu banyak manusia yang cukses. Tapi karena waktu juga ternyata banyak yang jatuh ke lubang sengsara.

Intinya adalah dengan waktu seharunya manusia:

1. Lebih produktif

Waktu itu seperti pedang kalau pepatahnya orang arab. Kenapa? Jika kita lihat waktu 24 jam dalam sehari ternyata banyak orang yang merasa waktu segitu tidak cukup. tapi ternyata banyak orang juga waktu 24 jam terlalu banyak.

Lalu kualitas orang tersbut? tentu saja sudah jelas kualitas orang yang mempunyai waktu dan memanfaatnya dengan kerja-kerja produktif akan lebih berefek dalam kehidupan dibandingkan dengan orang yang tidak memanfaatkan waktu secara optimal.

2. Bersabar

Sabar sangat identik dengan waktu. kalau ada orang yang bilang “udah sabar, semuanya butuh waktu.” atau ” sabar aja pasti badai cepat berlalu” nah, sudah terlihat sekali bahwa ternyata masalah juga kadang dengan sendirinya akan selesai seiring berjalannya waktu. Yang terpenting adalah bagaimana kita memposisikan diri kita sebagi orang yang terus berusaha dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Jadi,” sabar, ntar juga selesai masalahnya.” šŸ˜€ #ngomong kediri sendiri ini mah nih…:D

3. Saling Menasehati

Nah, menasihatiĀ  seharusnya menjadi sifat yang dipraktikan dalam kehidupan kita. Kemarin-kemarin waktu Pilkada Jabar, kalau ngeliat debat kandidat, rasanya ngeri sekali bangsa ini. Saling menyalahkan, saling menjatuhkan, saling mencaci. Mudah saja, ketika para calon pejabat itu saling menjatuhkan berarti di dalamnya ada ambisi. Saya sangat apresiasi dengan Aher (Ahmad Heryawan) ketika berdebat. Tidak ada bahasa menyudutkan lawannya. Dia hanya memberikan fakta saja. #nah lho kok malah ngmongin Pilgub Jabar…:P

Intinya saling menasihati dalam kebaikan seharusnya menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari. Kalau bahasanya salah seorang Imam yang bernama Imam Syafi’i “seandainya Allah hanya menurunkan surat Al-Ashar saja, sungguh bumi ini akan cukup aman.” Betul sekali. Sayang budaya saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran masih belum terasa di kita. Atau malah sudah hilang?

Jadi, kalau ingin sukses kuncinya adalah buat target, kawinkan dengan waktu ditambah dengan kerja-kerja terarah…insyallah….

Iklan

4 thoughts on “Berdamai Dengan Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s