3 Kunci Keberlimpahan Hidup

ingin pintarDi awal bulan Januari 2013 lalu saya mengikuti sebuah training yang diadakan oleh Khalifah Team yang dipimpin langsung oleh Ippho Santosa penulis buku Tetralogi(7 Keajaiban Rezeki, Percepatan Rezeki, Hanya 2 Menit, Moslem Millionaire). Di training tersebut dijelaskan tentang bagaimana menjadikan kehidupan biasa-biasa saja, menjadikan menjadikan kehidupan yang penuh dengan kebaikan. Bagaimana bersedekah dengan cara-cara yang tidak biasa, bagaimana membangun kekayaan dunia dan kekayaan akhirat.

ahh…rasanya setelah keluar dari training tersebut inginnya bersedekah terus supaya mancing duit yang lebih banyak dan datang ke kantong. hehehe….

Training tersebut juga menjelaskan tentang otak kiri dan otak kanan dan menjelaskan perbedaannya. Selain itu dijelaskan juga tentang kehebatan fungsi dari kedua belah otak tersebut. Lebih dasar lagi bahwa otak dan hati inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya.

Manusia mempunyai akal untnuk kehidupan yang lebih baik. Benarlah kata seorang Psikolog Amerika yang yang bernama William James, dia berkata:

“Revolusi terbesar dari generasi kita adalah penemuan makhluk hidup itu, dengan mengubah sikap batiniah dari pikiran mereka, dapat mengubah aspek lahiriah hidup mereka.”

Karena adanya akal, maka manusia mampu merubah kehidupannya dimulai dari batiniah. Kalau bahasanya Anis Matta:

“dari hati lah manusia bisa merasakan nikmatnya iman.”

Nah, jadi sudah jelas sekali bahwa efek internal dalam diri kita menentukan tindak tanduk kita dalam kehidupan. Lalu apa saja internal yang harus dibangun untuk kehidupan yang lebih baik? Anis Matta menjelaskannya dalam bukunya “Membentuk Karakter Cara Islam” ada tiga bagian yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Jika 3 bagian ini hilang satu saja, maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam kehidup manusia. Bagian apa sajakah? 1 akal, hati, fisik.

1. Akal

Akal inilah yang membedakan antara kehidupan manusia dengan hewan. Dengan akal manusia mampu melakukan hal-hal yang dipandang tidak mungkin. Coba saja kita lihat tembok Cina yang memanjang di sepanjang pegunungan-pegunungan tinggi. Dengan akal juga manusia akhirnya bisa sampai ke bulan. Habibie seorang jenius Indonesia bisa menciptakan pesawat. dan masih banyak karya-karya besar yang dihasilkan lewat akal manusia.

Lalu bagaimana jika manusia mempunyai hati yang bagus fisik yang sehat tetapi tidak mempunyai limu yang cukup? maka yang terjadi adalah manusia tersebut akan sangat mudah dibully (dibodohi) oleh orang lain. Seorang kepala pemerintahan, jika ia tidak mempunyai akal yang cerdas, maka hasilnya adalah hancurlah negara tersebut (dan inilah yang terjadi pada Indonesia tercinta sekarang ini). Jika akal tidak ada pada seorang penceramah, maka akan sangat mungkin ada kebohongan di dalamnya karena tidak memahami apa yang disampaikannya. Jika seorang direktur, maka ia akan menjadi seorang direktur yang tidak faham tentang bagaimana mengelola manusia.

2. Hati

Hati ini adalah sebuah indikator. Indikator apakah dengan akal manusia bisa berbuat baik, atau justru akan merusak tatanan kehidupan manusia. Ah, rasanya sudah banyak yang melakukan ini. Belajar dari Fir’aun misalnya. Akalnya yang cerdas, fisiknya yang tangkas telah menjadikannya seorang “Tuhan” karena ia tidak mempunyai hati ini. Karena hati yang mati ini pulalahkebanyakan pemerintahan Indonesia pada korupsi. Lihat saja kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini. hati yang mati akan lebih mengerikan efeknya dari pada ilmu yang hilang. Karena hati ini akan berimbas kepada masyarakat luas.

3. Fisik

Fisik, adalah hal yang penting yang juga perlu diperhatikan. ALlah memberikan fisik ini agar kita menjaganya. Seberapapun beban yang ada dalam pundak kita tentang kehidupan, bukan berarti menyiksa dan tidak memperhatikan. Ilmu dan hati jika ia bagus keduanya, maka yang terjadi adalah sebuah kekuatan yang sangat besar. Kehidupan yang baik akan tercipta. Efek lebih luas adalah jika ia seorang pemimpin, maka akan melahirkan pemimpin yang cerdas, berani dan bijaksana. Jika ia seorang penceramah, maka ceramahnya akan berbobot dan ikhlas menyampaikan ilmu demi perbaikan masyarakat.

Namun, jika hati yang bersih, akal yang cerdas, tapi fisik lemah, maka akal yang cerdas dan hati yang bersih susah untuk dioptimalkan dalam rangka memberikan kebaikan kepada orang lain, dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain. Fisik yang kuat akan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia tersebut.

Oleh karena itu pantaslah Rasulullah saw mengajarkan kepada kita tentang menjaga fisik ini.

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (HR. Bukhari/Muslim)

Sudah tidak ada alasan lagi untuk berkembang dan memperbaiki diri kita lalu berkontribusi pada orang lain. Jika alasannya adalah kurang ilmu, maka hari ini sudah banyak sumber informasi yang dapat kita cari. Jika hati yang rusak, bukankah ini adalah ibadah dalam memperbaiki diri untuk menjadikan kualitas keimanan kepada ALlah lebih baik lagi? jika fisik kita lemah (cacat, kurang olah raga) bukankah sudah banyak yang membuktikan bahwa cacatnya tidak menghambat ia untuk mencapai prestasi-prestasi . Contoh saja Nick Vujicic. Ia adalah serang yang tidak mempunyai tangan dan kaki. Tetapi ia telah menjadikan dirinya sebagai seorang inpirator yang telah mengubah banyak orang. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak berkembang.

Ingat seorang motivator yang berkata:

“Kehidupan itu tidak akan bermakna tanpa memberikan kebaikan kepada orang lain.”

Jadi marilah kita perbaiki kualitas kehidupan kita lalu berkontribusi kepada sesama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s