Kangen Mainan Jadul

wayangBeberapa hari yang lalu sebelum saya pulang ke Cirebon saya menyempatkan mampir di Kota Tua, Jakarta. Memasuki Jalan utama kota tua, saya langsung merasakan perubahan jaman. Terasa sekali perbedaan antara Jakarta sekarang dengan Jakarta dulu, Jakarta dulu sangat humanis.

Karena saya hanya punya waktu 1 jam untuk berkeliling kota tua (sempitnya waktu saya janji bakal balik lagi ke tempat ini dan menghabiskan nuansa jadulnya:D mengingat saya sangat suka nuansa jadul) maka saya fokuskan hanya pada musium Wayang. Kenapa musium wayang? karena saya sangat suka wayang (turun dari bapak sang kolektor wayang kulit dan golek).

Beragam wayang pun dipertontonkan di musium tersebut. Dari wayang-wayang Indonesia sampai wayang-wayang luar tertumpah ruah disini. Seperti masuk ke dunia wayang. di tengah perjalanan menelusuri musium wayang saya menemukan wayang mainan yang secara otomatis mengembalikan saya kepada masa kanak-kanak dulu.

Dulu, dulu sekali waktu saya kecil ingat bapak membuatkan sebuah mainan yang sederhana, wayang yang terbuat daribatang daun singkong. Sederhana namun sangat memberikan efek luar biasa terhadap saya yang sangat senang bermain.

Bapak mengajarkan bagaimana membuatnya, persis seperti lakon wayang yang sering dipertunjukan pada pergelaran wayang kulit. Wayang daun singkong. Ada yang pernah merasakan hal yang serupa?

Jika kita telaah kembali, permainan jaman dulu ternyata sangat-sangat kreatif. Kalo dilihat dari segi pendidikan, maka semuanya hampir diasah, dari mulai Auditory, Visual sampai ke kinestetik. Keunggulan yang laindibandingkan dengan permainan yang lain adalah anak yang satu dengan yang lainnya saling berinteraksi. Mereka berdiskusi bagaiaman cara membuat wayang, bagaimana cara melipat antara batang daun singkon dan memadukannya dengan tokoh pewayangan. Ah, seru rasanya kalau saya mengingat masa-masa itu.

di jaman sekarang permainan sudah masuk ke era digital. Mau tidak mau memang. Era Globalisasi ini berdampak pada anak-anak kita. LIhat saja Play Station, Xbox, HP dan lainnya. Hampir seluruh permainan itu hanya mengandalkan pikiran dan emosi. Sementara dilihat dari segi komunikasi dengan sebayanya? hampir nol besar. Akibatnya anak-anak tidak saling memahami dan tidak saling berinteraksi.

Yang ramai sekarang ini misalnya saja game Online. Lihat saja game online yang berbasis internet ini, tidak ada sama sekali interaksi antara anak yang satu dengan yang lainnya. Dampak dari permainan seperti ini akan sangat-sangat negatif. Setidaknya ada beberapa dampak:

1. Pemborosan, karena harus membayar sewa online game maupun rental PS.

2. Anak menjadi malas belajar, karena pikirannya terfokus pada game.

3. Merusah kesehatan mata, karena terlalu lama di depan monitor komputer/televisi.

4. Anak menjadi individualistik.

5. Terjadi perkelahian antar pemain jika bersaing dan akumulasi emosi negatif apabila kalah didalam bermain, bahkan sampai terjadi pembunuhan seperti apa yang terjadi di Perancis pada November 2009 silam.

Yang mengerikan lagi adalah ternyata dampak game online atau berbasis teknologi ini ngikut pada kehidupan nyata. Contoh yang cukup mengejutkan misalnnya:

  1. Julien Barreaux, 20, told police he wanted to see his rival player “wiped out” after his character in the game Counter-Strike died in a virtual knife fight.[1]
  2. Atau seperti yang terjadi di Bandung tahun 2005, seorang mahasiswa Universitas Maranatha tewas ditikam temannya sendiri akibat kalah bermain PS.
  3. Krisna Cahyadi (19), mahasiswa ekonomi angkatan 2004 Universitas Maranatha, ditemukan sudah menjadi mayat di tempat kosnya, di lantai 3 kamar C-20 Tulip Home Jln. Babakanjeruk IV No. 30 Kota Bandung, Kamis (1/12) sekira pukul 13.30 WIB. Dalam pemeriksaan awal, tersangka mengaku menghabisi nyawa korban karena kalah judi bola dan bermain Play Station dengan korban.[2]
  4. Terpengaruh dengan kekerasan dalam game. Seperti perisitiwa yang terjadi di Wellington Amerika Serikat, seorang anak tega membunuh ibu kandungnya setelah bermain Halo 3
  5. Daniel Petric, the Wellington teenager who claimed to be addicted to video games, was sentenced to at least 23 years in prison Tuesday for killing his mother and shooting his father after they forbade him from playing the game Halo 3.[3]

dan masih banyak lagi berita-berita mengerikan lainnya. Ah…kalau sudah begini kadang kangen dengan nuansa jadul.

Kini nuansa jadul sudah menjadi barang langka. Maka dijadikanlah sebagai lahan bisnis yang dapat mengingatkan setiap orang pada masa lalunya. Back to Nature memang kadang harus sering dilakukan agar rasa kemanusiaan tetap tumbuh dalam diri setiap manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s