Perjumpaan Malam itu dengan Kartini

kartiniPerjumpaan Malam itu dengan Kartini
(Helvy Tiana Rosa)

Ibu
Fotomu telah berulangkali dicetak untuk dipajang di pigura zaman negeri ini.
Sejak Snouck Hugronje, Abendanon dan Estelle dari negeri merah putih biru
berilusi tentang gelap yang jadi terang, kami digiring percaya
hingga ujung-ujung kebayamu

Maka setiap tiba pada hari itu, kami diingatkan

untuk berdiri tinggi di atas tebing hidup atas nama emansipasi
dan segala bentuk perjuangan sebagai gadis, istri, ibu, sebagai manusia.
Meski kadang kami tak mampu mengeja makna bahkan kerap
membolak baliknya semau kami, kami katakan itu mimpimu
dan kami rayakan atas namamu, ibu.
Sebab selalu habis gelap terbitlah terang

Malam merayap sampai ke ubun-ubun hari
bulan pucat mengantar bayanganmu di beranda.
Angin beringsut perlahan, sepi suara serangga.
Seperti perih yang terlempar kembali ke abad lalu,
tiba-tiba kudengar lirih tangismu di antara alunan gending yang gigil.
Lalu sejumlah tanya mencabik, bergema menyelusup ke sumsum masa

Kau bilang ada tangan-tangan yang mencipta
sosokmu sebagai ibu kami
dan itu bukan tangan pertiwi

Malam itu dalam gelap bibirmu mengucap nama-nama.
Angin menuntun tangan putihmu
menulis para puan pemahat matari sejati
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien,
Rohana Kudus, Christina Martha Tiahahu, Siti Aisyah We Tenriolle
dan ribuan perempuan lain.

: “Mereka yang paling sejarah!” katamu. “Tidakkah kalian bisa menyaksi?”

Lalu kau hampiri aku yang termangu, pias dan menggigil.
Dengan tangan gemetar kau serahkan penamu padaku.
“Tuliskan ribuan nama lain!”isakmu.
Aku ingin mengucap sesuatu atas hormatku padamu, Ibu,
tapi suaraku hilang dihisap malam.

Dan pena itu meliuk sendiri di udara, menuliskan lagi nama-nama
di atas pulau-pulau negeri, menjelma kembang api
dan lempengan cahaya paling kemilau: para puan pemahat matari,
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Rohana Kudus, , Christina Martha Tiahahu, Siti Aisyah We Tenriolle dan ribuan perempuan lain.

Lalu sayup kudengar lagi suaramu dibawa angin sampai jauh
: aku adalah hanya, tercipta dari surat-surat lara yang paling entah
aku lahir dari sejarah yang dikebiri….

Malam itu aku tersedak, bahkan tak bisa mengucapkan resah
yang berlarian melintasi tingkap jendela
Kupeluk fotomu sambil terus menulis tak terhingga nama
yang kutanam kembali di nadi dan belantara benak zaman

:Ibu!

(2 April 2012)

Iklan

2 thoughts on “Perjumpaan Malam itu dengan Kartini

  1. Zunu , Sabtu, 21 April 2012 Masing2 individu dibekali kadar keberanian & kekuatan yg berbeda-beda porsinya oleh Allah. Maka setiap orang punya cara masing2 dalam menghadapi permasalahan. Dan kurang bijak jika membahas keberuntungan orang lain dari sudut pandang kedengkian.

  2. bukan sebuah keburuntungan menurut saya, tapi sebuah perjuangan… perjuangan panjang.. Kartini dengan surat-suratnya…dan yanglain dengan perjuangannya masing-masing… sajak itu seolah ingin berbicara, “itu lho ada yang lain juga yang seharusnya bisa kita kenang layaknya kita mengenang Kartini.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s