Karena Kita Adalah Ahli Waris yang Sah

hari kebangkitan nasionalHari kebangkitan Nasional.Sbeuah kalimat yang terasa berwibawa bukan? Sebuah kalimat yang dipilih untuk dijadikan sebuah bahan renungan bagi siapa saja yang merasa bahwa dirinya adalah orang Indonesia, bertanah air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Sumpah pemuda adalah hasilnya.

Hasil ini seperti sari pati yang terus dibangun, diserap intinya dari mulai kelahiran Sarikat Islam sebagai pelopor kebangkitan Nasioinal sampai ketika Sumpah Pemuda dan Lagu Kebangsaan Indonesia dikumandangkan oleh WR Supratman melalui Biolanya karena khawatir akan terjadi pembubaran paksa jika dinyanyikan secara terang-terangan. Mereka begitu bangganya, begitu bekerja kerasnya agar nanti anak-anak cucunya seprti kita ini merasakan dan ingin mengatakan kepada kita “Inilah kami, inilah lukisan kami dalam membangun sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Selanjutnya kalian lah para pemuda yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan ini.”

Ya, hari ini adalah hari kebangkitan Nasional. Hari itu terus saja diperingati sebagai momentum kebangkitan Nasional. Yang artinya kita sedang berbicara tentang pemuda dari mulai tanah Sabang sampai pada tanah Merauke. Luas, tapi waktu itu, HOS Cokroaminoto sebagai peletak dasar dari kebangkitan Indonesia (sebelum adanya Budi Utomo) telah faham bahwa suatu saat nanti akan ada pemuda-pemuda lain dengan impian yang sama, PERSATUAN. Maka cita-cita itu akhirnya diejawantahkan pada Kongres Pemuda 1 dan 2 dimana pada Kongres Pemuda 2 itu seluruh Pemuda Berikrar Bertanah air satu, Berbangsa satu, Berbahasa satu, INDONESIA.

Penggalan sejarah-sejarah dulu itu seperti dongeng. Seperti cerita ketika bapak menceritakan kisah Mahabarata dan tentang Pemuda-pemuda yang dilahirkan Dewi Kunti, Pendawa Lima. Padahal tentu saja tidak. Mereka pernah hidup di bumi Nusantara ini dan mengukir sejarah dengan tinta emas yang tidak pernah akan terhapuskan oleh masa.

Pemuda-pemuda yang berjuang dulu, kini telah tiada. Telah berkalang tanah. Hanya jejak-jejaknya saja yang kita rasakan, kita amati, kita cerna lalu kita ejawantahkan lewat impian-impian kita tentang Indonesia yang lebih besar, Indonesia yang lebih indah, Indonesia yang Loh Jinawi. Jika dulu pemuda berjuang untuk kemerdekaan yang diimpi-impikan, maka hari ini pemuda harus mempunyai impian yang sama, membangun negara ini supaya tidak menjadi negara bangkrut.

Ditengah kehancuran generasi muda hari ini, saya yakin masih ada pemuda-pemuda seperti Soekarno, Hatta, dr. Soetomo, dr. Gunawan dan pemuda-pemuda lainnya yang akan terus mengukir sejarah tentang bangsa Indonesia, tentang cinta kepada bangsa ini, tentang kerja-kerja besar para pemuda kepada tanah air ini, dan tentang persatuan yang saya sebut sebagai harmoni yang indah, yang sejuk, yang akan membawa bangsa ini keluar dari lembah hitam.

Kenapa? Karena dulupun seperti itu. Sejarah akan terus berulang dalam situasi yang hampir mirip. Generasi-generasi muda dulu telah membuktikan bahwa mereka bisa keluar dari penjajahan fisik, penjajahan ideologi, penjajahan mental menuju sebuah kehidupan yang lebih baik. Maka hari ini kita sebagai seorang pemuda cukuplah bercermin kepada mereka apa yang harus kita lakukan. Karena mereka (Soekarno, Hatta, dr. Soetomo, dr. Gunawan) adalah magnet, merekalah yang telah menitiskan darah pahlawan kepada kita. Menitiskan keturunan pejuang kepada kita, bukan kepada orang lain. Mereka bukan pecundang, maka tentu saja kita sebagai garis keturunan langsung sebagai pemuda akan malu jika suatu saat nanti dikenal oleh anak cucu kita sebagai pecundang, bukan sebagai pemenang.

Oleh karena itu, tidak ada kata lain bagi kita sebagai seorang pemuda untuk melanjutkan karya-karya mereka yang telah mereka buat melalui kerja-kerjanya. Tentu saja kita tidak akan pernah menuntaskan perjuangan ini. karena jaman akan terus bergulir dan akan ada diantara anak cucu kita yang akan melanjutkan perjuangan kita. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah kontribusi apa yang akan kita berikan kepada bangsa yang besar ini sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai seorang pemuda. Jadikan adanya kita bermanfaat untuk bangsa ini. Jangan sampai ada atau tidak adanya kita tidak berpengaruh sama sekali.

Tidak perlu melakukan hal-hal besar jika memang sulit. Tapi lakukanlah hal-hal kecil untuk orang lain. Jika belum mampu, maka setidaknya kita tidak menjadi beban bagi bangsa ini. mandirilah. Bukankah itu adalah masih bermanfaat dibandingkan kita terus menerus merusak bangsa yang sudah dibikin oleh para pendiri bangsa ini. Saya yakin masih ada pemuda-pemuda di negeri ini yang akan terus berjuang melanjutkan perjuangan. Untuk mereka saya ingin ucapkan “Mari kita berjuang. Mari kita membangun bangsa ini. Jika kalian mampu berbuat lewat jalan yang sudah kalian tentukan, maka akupun begitu. Aku sedang berbuat untuk negeri ini lewat caraku sendiri.” Peluk hangat untuk para pemuda yang sedang berjuang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s