Gemilang

Rinai-rinai redup mengelayut pada pada ujung hidup..
Waktu kembali mgnulang-ngulang tentangnya..
tentang perjalanan dimana manusia menorehkan tinta-tinta sejarah…
sejarah panjang tentang anak manusia…
tentang Adam yang memakan buah Kuldi, dan tentang anak manusia yang mati hari ini..

Lalu wajah itu menengok kembali ke ujung hidup dulu,
dimana peraduan ibu adalah keagungan tentang hidup, ketentraman tentang nafas…

setelah lepas darinya, maka ujung hidup dulu merajut benang-benang menjadi Morgana-morgana membelai mesra. Menjadi nirwana-nirwana seolah dekat..
Dimana tangan-tangan kecil ini sudah mencoret-coret makna pada lembaran kertas waktu…

Angin surga berhembus pada nafas-nafas kelam..
Aku, kau, belum lagi apa-apa tapi telah pongah tentang pencapaian
Maka, hari ini kita berikrar akan membangun senja yang gemilang…
akan membangun Rona yang syahdu pada ujung kehidupan yang akan datang…
Agar anak cucu kita kelak bisa mengenal kita sebagai pemenang bukan pecundang…

Selamat datang kehidupan gemilang..
selamat datang karang yang menjulang…
Kau akan kubuang pada ranah dimana aku bisa melemparkanmu menjadi pecundang, karang…

Puspitaloka, 02 Juli 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s