“Barangkali Esok Aku Sudah Tiada”

berkah ramadhan

Bulan Ramadhan ketika disebut
Kami teringat sebuah taman bunga
Yang semerbak wangi tempat persinggahan
kebaikan mengandung hikmah

Bulan Ramadhan syahdu menaungi
Hati gembira semesta merah merona 2x

Bulan Ramadhan di dalammu ada
Dua kebahagiaan yang ‘kan kita temui
Ketika berbuka ketika bertemu
Dengan Allah Yang Maha Mulia 

Bulan Ramadhan mari mujahadah
Di dalam jiwa tancapkan kemauan2x

“Kupegang Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Keras kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah.”

Lirik lagu ini seperti masih saja terdengar di telinga. Padahal sudah lama sekali tidak mendengarkan lagu yang dibawakan oleh tim Nasyid Justice Voice. Mendengarkan liriknya serasa ada semangat yang terus menerus untuk mendapatkan yang terbaik di bulan yang penuh hikmah ini.

Bulan Ramadhan, bulan yang selalu dinanti-nanti bagi umat muslim. Bulan yang terkesan syhadu, seperti pepohonan yang rindang ditengah terik matahari. Seperti telaga yang menghilangkan dahaga bagi para musafir yang tengah dalam perjalanan panjang. Bagi Rasulullah saw Ramadhan adalah masa dimana detik-detiknya adalah penuh dengan keberkahan, penuh dengan cinta, sampai-sampai Rasulullah Muhammad saw butuh dua bulan persiapan untuk menyambut bulan agung ini. Doa Rasulullah :

“Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’ban wa balighna ramadhan” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan

Bulan ramadhan seperti tamu agung yang datang dari jauh. Kedatangannya ditunggu karena tahu ia sedang membawa pesan dari yang Maha Agung. Bulan Ramadhan seperti Rembulan yang hanya datang setahun sekali. Kedatangannya penuh pesona, sehingga seluruh makhluk hidup menunggu siang dan malam. Bahkan nuansanya mampu menembus manusia-manusia hina. Bulan Ramadhan seperti magnet kehidupan yang di dalamnya mengandung berbagai makna ketenangan. Maka pantas Rasulullah Muhammad saw mempersiapkan selama dua bulan untuk menyambut bulan Ramadhan ini.

Jika Rasulullah Muhammad SAW saja mempersiapkan dua bulan sebelumnya, maka ini adalah saebuah tanda bagi siapa saja agar bisa memanfaatkannya dengan baik. Bagi orang-orang yang beriman ia akan mengenggamnya dengan erat sebagaimana Lirik Nasyid di atas “keras ku genggam dengan geraham...” karena mereka tidak akan pernah tahu apakah Ramadhan berikutnya mereka akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.

Maka Melepaskan Ramadhan bagi orang-orang yang beriman adalah sesuatu yang bisa membuat dada sesak. Meninggalkan waktu tanpa makna walaupun hanya satu detik pada bulan Ramadhan baginya adalah kesia-siaan yang tidak bisa digantikan dengan waktu-waktu yang lainnya. Ia akan menangisi waktu yang sudah tertinggal tanpa makna. Ia akan rela menebusnya dengan apapun yang ia bisa asalkan waktu tersebut kembali dan diisi dengan hikmah-hikmah tentang Ruhiyah.

Sangat indah perumpamaan lirik di atas tentang Ramadhan, seperti taman bunga yang harum semerbak. Harumnya mampu menghilangkan kerak-kerak dosa yang sudah menahun. Jika ketika datangnya bulan Ramadhan sekarang di hati setiap anak manusia ada sebuah kegembiraan, maka bersyukurlah karena berarti ia (hati) masih bisa merasakan nikmatnya kehadiran bulan ini. Jagalah ia dengan sujud-sujud panjang, dengan tilawah-tilawah indah pada setiap ujung malam, dengan salat-salat sunah yang menjadi seperti pahala ibadah wajib.

Namun, jika datangnya bulan ini tidak ada ada sedikitpun rasa senang, maka beristigfarlah jangan-jangan hati kita sudah mati, jangan-jangan hidup kita sejatinya sudah berada dalam lembah kehancuran. Jika sudah seperti ini, maka bangunlah, lalu berbenah. Hadapkan wajah kita pada yang menciptakan kehidupan, yang menghembuskan ruh dalam diri kita.

“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yg menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kepasrahan kepada agama yg benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yg musrik.” (QS. Al-An’am:79)

Agar kehidupan kita menjadi membaik, tidak gersang. Bukankah rasa gersang dalam dada seperti terhimpit batu besar? Jika “iya” tentu saja kita tidak mau merasakan hal semacam itu. Dunia yang begitu luas terasa sempit. Bukan dunianya yang sempit, tetapi hati kita yang telah mati. Bagi orang-orang yang hatinya sudah mati, maka Bulan Ramadhan adalah momentum perubahan. Jangan sampai bulan ini meninggalkan kita begitu saja tanpa ada goresan-goresan indah pada setiap jejak waktu yang ia tinggalkan.

Mau atau tidak, Ramadhan hanya melintas di depan wajah kita yang lusuh. Ia menawarkan penyejuk, tapi tidak memaksa. kitalah yang mesti menangkapnya. Beruntunglah bagi siapa saja yang bisa menangkap waktu yang melintas itu. Subhanallah…semoga diri ini bisa memanfaatkan waktu yang melintas begitu cepat ini, selamat datang Rembulanku..ahlan wa sahlan yaa Ramadhan.

“Kupegang Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Keras kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s