Indonesia Berdaya: “Kita, Bukan Lagi Aku..!!”

indonesiaberdaya2“Bukan lagi aku, tapi kita..!!,” Kakek Jamil Azaini berteriak lantang ketika beliau mengisi materi di Indonesia Berdaya. Yup, bukan saatnya lagi mendahulukan ke “aku” an, tetapi sudah saatnya mengatakan “kita”. Terus terang saya merinding ketika menyaksikan benar-benar seluruh motivator Indonesia, selebriti Indonesia, dan pebisnis Indonesia bisa bergabung menjadi satu. Tadi malam (26 September 2013) adalah sebuah malam yang bersejarah. Sebuah malam dimana bisa jadi ini adalah awal kebangkitan perekonomian Indonesia.

“Indonesia Berdaya”, sebuah prasa yang mengekspresikan tentang betapa hari ini Indonesia sedang dilanda krisis dari berbagai sektor. Baiklah saya peringan hehehe.. Kalau kita kembali melihat dari Sabang sampai merauke Indonesia itu benar-benar surga dunia. Ibaratnya orang Indonesia masih bisa hidup walaupun terisolasi dari dunia luar. Betapa tidak, alam telah menyediakan kekayaan yang melimpah.

Contoh saja nih, Potensi minyak hidrokarbon di timur laut Simeulue, Aceh diperkirakan mencapai 320 miliar barrel, jauh di atas cadangan minyak Arab Saudi yang hanya memiliki volume 264 miliar barrel. Selain itu terdapat potensi tenaga panas bumi di Jaboi, Sabang, serta emas, tembaga, timah, kromium dan marmer di Pidie. Perut bumi Aceh juga menyimpan tembaga alam seperti Native Cupper, Cu, Chalcopirit, Bornit, Chalcosit, Covellit dan biji tembaga berkadar tinggi lainnya.

Anehnya sebegitu hebatnya sumber daya alam di Aceh yang seharusnya bisa menjadikan rakyatnya sejahtera seperti sesuatu yang sangat mustahil. Belum lagi di Kalimantan yang mempunyai mineral dan energi yang tinggi, pemilik salah satu deposit karbon terbesar di dunia. Hari ini kekayaan itu dihabiskan begitu saja oleh Exxon, Chevron, Bumi. Rakyatnya? Sudah bisa kita tebak, kehidupan yang normal, kehidupan yang layak menjadi seperti sebuah angan yang terlalu tinggi. SDA-SDA tersebut diangkut begitu saja oleh perusahaan asing dan menjualnya kembali ke kita. Ibaratnya seperti membeli barang sendiri. Maluku dan Papua pun demikian, masih bergelut dengan kemiskinan.

Berangkat dari keprihatinan itulah akhirnya “Indonesia Berdaya” lahir. Gerakan ini dipelopori oleh seorang Motivator juga pebisnis Ippho Santosa. Saya sebagai salah satu tim Ippho Santosa tentu saja mempunyai kebanggaan tersendiri karena bisa terlibat di dalamnya. Ketika Grand Seminar ini berlangsung yang diawali oleh penampilan tim Nasyid SENADA dengan lagu nasyid lawas yang berjudul “Neo Shalawat” nya, desir-desir hati mulai merayap ketika pembicara satu persatu dipanggil.

Sesi pertama ini dimoderatori oleh Peggy Melati dan yang menjadi pembicara adalah Valentino dinsi, Endi Think Dinar, Aryo Diponegoro Pakar Property, Hendi Baba Rapi, Cak Eko, Badroni Yuzirman pendiri Komunitas Tangan Di Atas, dan ust Reza . Mereka berbicara tentang kekayaan Indonesia yang begitu kaya. Mereka membeberkan tentang “sudah saatnya pebisnis lokal maju dan memajukan Indonesia.” Materi yang sangat terasa dan berbobot karena yang berbicara adalah pebisnis-pebisnis kawakan yang sudah menasional.

Dilanjutkan pada sesi kedua yang dimoderatori oleh Marshanda dengan pembicara Ippho Santosa, Jaya YEA, Ust Yusuf Mansur (Datang ketika sesi kedua berlangsung), Asad Note From Qattar, Felix Siauw, Jamil Azaini dan dirut Dompet Dhuafa dan beberapa trainer lainnya. Sesi kedua ini mulai mengarah apa yang harus dilakukan. Bulu kuduk semakin merinding mana kala Kakek Jamil Azaini dengan khas Oratornya membahas beindonesia berdayatapa Indonesia sejatinya mampu bangkit asalkan yang ada diruangan (seminar) ini saja bisa bersatu “Kita, bukan lagi aku..!!” Dilanjutkan dengan Ippho santosa sang penggagas acara. Matanya mulai menahan air mata yang tak kuat ia bendung. Bukan hanya karena acara ini bisa berlangsung saja, tetapi juga karena cintanya kepada Rasul Muhammad saw tampak sekali terlihat dari apa yang ia katakan saat itu. Pada setiap kalimat-kalimatnya seolah-olah ia ingin mengatakan “ini ya Rasulullah, saya hanya baru bisa melakukan seperti ini. Semoga Allah dan engkau ridha dan sudi bertemu dengan hamba-Mu yang penuh dengan khilaf ini.” Saya sebagai salah satu timnya tentu saja membuat hati semakin “gerimis” karena saya tahu apa yang dia lakukan pada setiap harinya di kantor. Keresahannya jika acara ini tidak berjalan dengan mulus, kekhawatiran mengecewakan tamu-tamu penting yang tidak puas dengan acara yang ia selenggarakan dengan Dompet Dhuafa. Saat itu saya berkata dalam hati “Saya akan selalu siap berjuang membantunya sampai dia (Ippho) tidak membutuhkan saya lagi.”

Tak disangka tak dinyana ditengah talkshow yang terus berlangsung hangat dan memunculkan optimis, datanglah ust Yusuf Manshur dengan gaya khasnya. Sambil menuju kepada tempat yang sudah disediakan di kursi pembicara, Ippho melanjutkan pembahasannya setelah pembicaraan sempat terhenti karena menyambut ust Yusuf Manshur sang “Maestro” sedekah.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran video tentang Indonesia yang berdurasi sekitar 3-5 menitan. Pihak dompet Dhuafa menayangkan sebuah Video tentang kekayaan Indonesia yang sengaja dikontraskan dengan keadaan masyarakatnya yang masih dibawah garis kemiskinan lalu diakhiri dengan apa yang harus dilakukan oleh kita sebagai Rakyat Indonesia.”

Acara Indonesia Berdaya diakhiri oleh materi sekaligus tausiyah dari Ust. Yusuf manshur. Diawal ust Yusuf Manshur membahas tentang potensi “uang tidur di mesjid”. Beliau mengatakan bahwa “di Indonesia ada sekitar 1 juta mesjid. Jika setiap Jumat mesjid menghasilkan uang sebesar 500 ribu saja maka dalam satu Jumat itu potensi nya sampai 500 milyar. Subhanallah kita bisa membeli apapun.” Dengan uang sebesar itu tentu saja kita bisa membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu secara ekonomi dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Kita kelola sendiri sumber daya alam dengan membeli aset-aset asing tersebut. Dan sebentar lagi ini akan menjadi sebuah kenyataan Insyallah.

Subhanallah, kekuatan ekonomi yang tertidur ini tentu saja sangat mungkin bisa dibangunkan agar menjadikan Indonesia Berdaya dan membeli kembali aset-aset Indonesia yang sudah dibeli oleh orang-orang asing. Bahkan Ust Yusuf Manshur siap meleburkan “Indonesia Berjamaah” nya ke “Indonesia Berdaya”

Gagasan yang dibuat oleh Ippho sebenarnya bukanlah gagasan baru. Ini adalah ide lama yang sudah lama semenjak jamannya Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda:

“Jika di tanganmu ada benih kurma & kamu tahu bahwa esok kiamat, maka hendaklah kamu menanamnya” [HR Imam Ahmad]

Hadits di atas seolah-olah berbicara kepada kita tentang “ini lho seharusnya sebagai pemilik Indonesia sah kita lah seharusnya yang membangunnya. Bukan orang lain.”

Gagasan ini bukan pertama kali didengungkan oleh para motivator. Namun, saya yakin hanya dari hati yang bersih, yang mempunyai impian yang besar, yang dimulai dari keprihatinlah yang menjadikan momentum tanggal 26 September 2013 terjadi. Karena jika tidak ada niat yang ikhlas, hati yang tulus, maka saya yakin 40 orangan motivator dan pengusaha ini akan sangat sulit dikumpulkan. Karena mereka pun mempunyai kegiatan yang super padat. Sebut saja Dude Herlino, Teuku Wisnu, Marshanda, Peggy Melati dan artis-artis lainnya yang mempunyai jadwal shooting yang padat. Jamil Azaini sang bapak para motivator mau merendahkan egonya, dan sederet pengusaha nasional lainnya yang juga siap mendukung program ini. Mereka bersatu dan bersepakat untuk membangun perekonomian Indonesia yang lebih baik.

Mari kita doakan semoga momen sejarah ini bisa merubah keadaan sedikit demi sedikit menuju kehidupan yang lebih baik.

Saya teringat pada lagunya Iwan Fals yang berujudl “Galang Rambu Anarki” semoga kita bisa mematahkan keadaan yang diceritakan pada lagu Iwan Fals ini dan menjadikannya hanya sebatas nyanyian yang asyik untuk ditembangkan sambil hanya mengenang situasi itu saja, tidak lebih. Aamiin…

buat yang ingin bergabung dan bersedekah, sahabat bisa langsung transfer ke:

BCA 237.300.4723 an Yayasan Dompet Dhuafa Republika
BNI 023.962.3117 an Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s