7 Hal Penting yang Harus Dipahami dari Orang-orang Pengukir Sejarah

SoekarnoSetiap manusia mempunyai liku-liku kehidupan yang berbeda, nuansa yang beragam, di wilayah dan waktu yang juga berbeda. Namun ia mempunyai esensi yang sama, sebuah perjuangan dalam rangka mempertahankan hidup. Mempertahankan hidup pun beragam. Ada yang dengan optimis dalam manghadapinya namun tak jarang juga dipenuhi dengan perasaan fesimis. (Ah, kalau sudah seperti ini rasanya ingin menjitak diri sendiri yang kadang mengeluh sama masalah).

Orang-orang hebat dengan segala macam masalahnya, mereka ternyata mempunyai sisi-sisi yang hampir mirip, kemiripan ini telah mengalahkan masalah yang datang kepadanya. Nah, yang mirip-miripnya ini saya kira bisa kita contoh untuk dijadikan sebagai motivasi hidup kita ya. Mari kita belajar dari orang-orang hebat sepeti Rasulullah Muhammad saw, 4 sahabat nabi, Muhammad Al-Fatih, Soekarno, penulis-penulis besar Indonesia seperti Hamka, Habiburahman El-Shirazi, Ahmad Fuadi bagaimana mengalahkan masalah dengan karya-karya dan hal-hal yang mereka punyai.

1. Hidup dalam keterbatasan

Tidak semua, tapi sebagian besar orang-orang hebat justru lahir dari situasi yang sulit. Situasi-situasi yang sulit, tertekan dan penuh dengan konflik menyebabkan manusia seperti BJ. Habibi telah memplokamirkan dirinya agar bisa memberikan sumbangsing yang besar untuk negaranya. Sumbangsih itu kemudian ia rubah menjadi kerja keras di jerman. Belajar dalam keterbatasan, membangun impian demi kehidupan yang lebih baik.

Lain lagi dengan Habiburahman El-Shirazi. Dari sebuah kamar kecil ia menulis sebuah novel yang mampu membangun dunia kepenulisan yang tengah redup. Kecelakaan telah menjadikannya seorang yang mampu memanfaatkan waktu di kamar. Hasilnya? Ayat-Ayat Cinta menjadi salah satu buku terlaris di Indonesia bahkan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing.

Orang-orang besar hidup dalam keterbatasan tak lantas menjadikan mereka beralasan untuk mundur. Yang mereka lakukan adalah justru keterbatasannya menjadi titik balik kehidupan mereka. Mereka pergi ke tanah-tanah yang belum pernah mereka kunjungi, Mesir, jerman, Inggris, Kanada dan negara-negara besar lainnya. Disanalah akhirnya mereka menemukan puing-puing ilmu yang kemudian disusun menjadi sebuah karya.

2. Impian yang jelas

Lagi-lagi impian. Saya sudah sering menguliskan tentang yang satu ini, Impian. Kalau sahabat baca novel 5 CM atau Laskar Pelangi, maka disana terlihat jelas tentang kehidupan sang penulis. Mereka mempunyai impian-impian yang besar. Impian-impian yang besar inilah yang kemudian menjadikan Andrea Hirata berkelana di Benua Eropa, Prancis, Inggris dan sederet negara-negara maju di Eropa. Impian yang jelas dan mengakar telah menjadikan setiap orang keluar dari zona nyaman. Sakit sih, namun ia akan terobati manakala ia telah mencapai apa yang diinginkannya. “Impian menjadikan hidup lebih berwarna” kata bapak. Fokus akan menjadikan hidup lebih terarah.

3.       Visi yang besar

Orang-orang yang hebat tidak pernah mempunyai visi yang kecil., tidak pernah berpikir untuk dirinya sendii. Visi nya selalu besar. Ketika seorang Habibi yang sedang sakit di sebuah rumah sakit di Jerman, ia menuliskan visi besarnya pada kertas putih bahwa ia akan mengabdi pada Bangsa Indonesia. Visi yang besar pula telah menjadikan Ahmad Fuadi sang penulis novel “Negeri 5 Menara” keliling dunia. Helvy Tiana Rosa telah menajdikan komunitas Forum Lingkar Pena menjadi komunitas besar dan menghasilkan penulis-penulis besar pula. Visi yang besar tidak berorientasi pada pribadi, melainkan ia berkata tentang kita, tentang kami dan tentang kehidupan manusia yang lebih baik. Subhanallah ya…

4.       Pembelajar sejati

Kesamaan yang lain dari orang-orang hebat adalah pembelajar sejati. Jika orang kebanyakan belajar hanya delapan jam, maka seorang pembelajar sejati akan menghabiskan waktunya lebih dari itu. Ia akan berjuang lebih keras, mengangkat buku dan membacanya lebih lama, browsing ilmu di internet lebih lama.

Orang-orang hebat tak pernah berhenti belajar. Semakin dia menemukan kebuntuan semakin pula ia akan bersemangat untuk memecahkan kebuntuan tersebut. Dengan kegigihanlah Edison bisa menemukan lampu pijar. Hanya akan ada dua kesimpulan bagi oran-orang yang bertemu dengan masalah, akan menjadikan orang tersebut mulia dengan masalahnya, atau justru tersungkur dengan masalah tersebut. Pembelajar sejati ia akan berdiri tegak menghadapi masalah dengan keoptimisannya, sementara orang-orang yang selalu mengeluh, ia akan tertunduk lesu karena beban masalah tampak begitu berat. Kerasa kan bedanya?

Coba dengarkan sang maestro Basket NBA, Michael Jordan. Dia bilang “Selama karir saya, lebih dari 9000 kali lemparan saya tak membuahkan angka. Saya kalah dalam 300 pertandingan dan 26 kali saya dipercaya melakukan winning shot, tetapi gagal. Saya sering mengalami kegagalan dan gagal lagi dan gagal lagi dalam hidup saya. Tapi itulah yang membuat saya sukses….”

See, gagal itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika mengalami kegagalan dan kita berhenti. Hukum pastinya adalah semakin bertambah kegagalan semakin dekatlah pada kesuksesan. Syaratnya pelajari juga kenapa kita gagal.

5.       Suka dengan hal yang baru

Bagi orang-orang hebat, hal-hal yang baru adalah sesuatu yang layak untuk diperhatikan. Ia akan selalu mempelajarinya dengan seksama karena rasa ingin tahunya yang tinggi.  Hal yang baru membuat seseorang berpikir lebih keras. Keluar dari zona nyaman. Ia telah menjadi orang yang fleksibel dan mudah beradaptasi dengan kehidupan luarnya. Ini penting. Mari kita belajar dari Buya Hamka seorang ulama sekaligus politikus Masyumi. Hidupnya dimulai dari Maninjau, Medan, Jakarta dan luar negeri. Selain sebagai seorang penulis ia juga jago dalam berbahasa Arab. Dari bahasa Arab ini ia mempelajari hal-hal baru tentang dunia islam dan barat.

Apik dan juga heroik. Belajar dengan otodidak tidak menjadikannya lantas menjadi orang yang penuh dengan fesimis. Justru dari ke otodidakannya ini ia mampu menjadi seorang rektor di berbagai universitas di Indonesia.

Lihat, betapa hal-hal baru akan merangsan otak kita menjadi lebih jenius dan lebih cerdas dalam mengambil tindakan. Sementara jika hanya bertemu dengan sesuatu yang biasa-biasa saja otak tidak terstimulus untuk bereaksi dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini akan menjadikannya “otak mati”, ada tapi tidak mendatangkan banyak manfaat. Orang-orang besar seperti mereka selalu mengoptimalkan otaknya.

6.       Lingkungan

Saya teringat pada seorang sahabat dari yang tadinya pendiam menjadi sangat-sangat antusias. Sebagai seorang internet marketer ia hampir tidak perduli dengan komunitas lainnya. Siang sekitar pukul dua an dia mulai mengoprasikan komputernya. Ini terus berlangsung sampai subuh tiba. Setelah selesai salat subuh ia kemudian tidur sampai dzuhur menyapa.  Begitu terus semenjak ia sibuk dengan internet marketingnya.

Namun, suatu saat ia bergabung dengan komunitas bisnis konvensional. Ia sadar bahwa hidupnya tidak mungkin bertemu dengan komputer terus menerus. Walhasil setelah itu berubahlah ia menjadi seorang yang penuh dengan ide-ide cemerlang. Bisnis di internetnya tidak ia hilangkan, tetapi justru ia berikan daya ungkit dengan bisnis konvensional. Hasilnya? Boomm..!! setiap bulan puluhan juta ia dapatkan dengan menggabungkan dua komponen, internet dan konvensional.

Benar kata pepatah arab, siapa yang bergaul dengan pandai besi setidaknya ia akan terkena hitamnya karena terkena asap, tetapi siapa yang bergaul dengan tukang parfum, minimal sisa-sisa dari botol pelanggan dioleskan ke tubuh kita, harum. Hehehe..

7.       Mempunyai tokoh inspirasi

Ada hal yang tidak atau jarang diungkapkan oleh orang-orang besar, yaitu siapa dan apa yang melatar belakangi ia melakukan hal tersebut. Keberhasilan Enstein dalam dunia Fisika tidak terlepas dari ayahnya. Ayahnya menampilkan berbagai macam hal yang dapat membantu perkembangan otak Esntein ketika dirinya masih kecil. Ayahnya mengajak Enstein untuk mencermati dengan baik kompas kantung. Enstein memahami bahwa kantung yang bergerak mengikuti arah mata angin dikarenakan kantong tersebut merupakan ruang yang kosong. Ayah nya einstein adalah dalang yang menjadikan Einstein jenius. Pada suatu kesempatan dia bilang ayahnya adalah inspirator baginya.

Jadi, bagi kita yang merasa rendah diri, belajarlah dari mereka. Bukan berarti saya sudah seperti mereka sahabat. Tapi cukuplah contoh-contoh diatas menjadikan kita berpikir bahwa gagal itu wajar, masalah yang datang pun adalah surat cinta dari Allah agar kita belajar bagaimana menyelesaikan masalah. Sebagai penutup, baru-baru ini saya membaca bukunya ust. Felix  Siauw yang berjudul “Muhammad Al-Fatih.” Muhammad Al-Fatih inilah yang telah menaklukan Konstantine yang pada waktu itu adalah sebuah negara yang sudah ribuan tahun tidak bisa ditembus oleh siapapun. Termasuk oleh sang ayah. Al-Fatih muda dengan modal hanya dari hadits nabi Muhammad saw yang berbunyi “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari hadits ini ia bisa menaklukan sebuah negara Adikuasa yang sudah ribuan tahun tidak bisa ditaklukan. Tekad dan percaya bahwa dirinya sangguplah yang menyebabkannya Konstantine atau Konstantinopel dibebaskan olehnya. Kereennn…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s