janji Alif Untuk Ibu

ibuPagi itu Alif bangun dengan sedikit tertegun. Hari ini sudah satu Muharram kembali. Muharram berarti tahun baru. Tahun yang kemarin sudah lewat. Tidak akan pernah balik lagi. Yang tersisa hanyalah jejak-jejak yang hampir sama seperti sebelumnya. Jejak itu masih belum terhapus dengan jejak tahun-tahun sebelumnya. Itu artinya tidak ada perubahan yang berarti dalam perjalanannya. Begitupun dengan Alif. Ia masih duduk termenung di atas kasur. Ia kembali mengoreksi impian-impian yang sudah ditulis. Ia teringat sebuah ikrar peristiwa  pada tahun sebelumnya

“Ibu, doakan Alif agar tahun ini bisa lebih sukses. Bisa mengumrohkan ibu dan bapak.”

Sambil memegang kaki ibunda dan menciumnya. Tapi, tahun telah berganti, belum ada satupun impian yang diwujudkan Alif u

ntuk orang tuanya.

Alif kembali termenung. Sedih dan semakin khawatir. Terlebih ia baru sadar ketika ia memandikannya kemarin, rambut ibunda semakin memutih, artinya sudah semakin uzurlah ia. Cicit burung diluar jendela tak mampu mengurai kesedihannya. Mata air dari kelopak mata perlahan jatuh tak tertahankan. Ia menyesal karena setahun kemarin ternyata masih saja berleha-leha. Waktu yang telah lewat hanya dihabiskan untuk bersenang-senang. Sementara waktu sesungguhnya kejam. Ia tidak perduli kita ada di dalamnya atau tidak, tetap akan meninggalkan kita. Alif menutup mukanya. Ada rasa sedih dan menyesal karena belum sempat membahagiakan ibundanya. Sementara ibunda Alif kini tengah terbujur kaku di pusara. Hari kemarin beliau meninggal karena sakit yang berkepanjangan.

***

Sahabat. Siapa Alif dicerita yang saya tulis di atas? Bisa jadi Alif adalah kita. Kita yang senang menunda-nunda dalam mewuju

dkan impian, menunda-nunda pekerjaan, bertemu dengan masalah namun tidak secepatnya masalah itu diselesaikan.

Mungkin kita pernah berikrar “Ibu, kelulusan aku adalah persembahan buatmu.” Tapi menyelesaikan skripsi saja seperti sebuah beban yang menghimpit tubuh. Menyelesaikan skripsi begitu berat. Sementara ibu kita, ia membawa-bawa kita dalam kandungan selama sembilan bulan. Ia tak pernah merasa kecewa karena tengah mengandung kita. Kaki-kakinya bengkak. Untuk salat lima

waktu saja ia tampak sekali kesulitan. Keringat mengcur ketika ia juga bekerja merapihkan rumah, namun senyumnya menampakan bahagia karena sebentar lagi akan ada seseorang yang ia panggil sebagai “nak”.

Sahabat, bisa jadi Alif adalah kita.

Ibu (dan ayah juga) tidak pernah meminta kepada kita tentang apapun. Ketika kita kuliah, kita masih sempat bersenang-senang dengan kawan-kawan. Kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk seseorang yang belum tentu jadi keluarga (pacar). Nelponin “pacar” setiap detik. Padahal sesungguhnya ibu (dan juga ayah) sedang khawatir dengan keadaan kita setelah sekian lama kita tidak menelponnya, bahkan meng-SMS pun hanya ketika uang harian habis. Kini, ibu, ayah, rambut mereka sudah memutih. Usia mereka tidak lagi muda. Jangan sampai penyeselan Alif berulang kepada kita. Ketika mereka sudah tiada, kita masih belum bi

sa membahagiakan mereka sama sekali. Duhhh…sedih sekali bukan?

Sahabat, bisa jadi Alif adalah kita.

Ketika kita bekerja siang dan malam demi kepuasan pribadi, demi gaji yang besar. Sementara ibu dan ayah kita yang sudah renta tidak pula kita perhatikan. Bukan, mereka bukan peminta. Tetapi kitalah yang harus memperhatikan. Bukankah ketika kita kecil ibu dan ayah kita dengan sabar mengumpulkan rupiah demi rupiah hanya untuk membelikan mainan yang kita minta dengan tangisan yang teramat keras?

Sahabat, sudah bukan waktunya lagi bagi kita untuk menunda-nunda pekerjaan, memuaskan diri dengan hura-hura yang tidak jelas. Sudah saatnya kita menjadi kebanggaan kedua orang tua kita yang telah membesarkan kita dengan penuh linangan air mata.  Mumpung mereka masih hidup, mumpung mereka masih bisa melihat kita dan membanggakan hatinya, sehingga ketika mereka sudah tiada, mereka senang dan membanggakan diri kita ketika bertemu dengan Allah di akhirat kelak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s